Oleh Ustadz Fahrur Rozi Nasution.SE
Pimpinan Pondok Pesantren Ta'dib Al-Syakirin
Allah ﷻ berfirman :
اِنَّاۤ اَنْزَلْنَاۤ اِلَيْكَ الْكِتٰبَ بِا لْحَقِّ فَا عْبُدِ اللّٰهَ مُخْلِصًا لَّهُ الدِّيْنَ
Artinya : "Sesungguhnya Kami menurunkan Kitab (Al-Qur'an) kepadamu (Muhammad) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya." (QS. Az-Zumar 39: 2)
Ikhlas adalah kata dalam bahasa Arab yang memiliki arti sungguh-sungguh atau dengan tulus. Dalam konteks Islam, ikhlas sering kali diartikan sebagai ketulusan hati dalam beribadah kepada Allah ﷻ tanpa mengharapkan pujian atau penghargaan dari manusia.
Dari Abu Hurairah ra, Nabi ﷺ bersabda :
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَة رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَ أَمْوَالِكُمْ وَ لَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَ أَعْمَالِكُمْ
Artinya : Dari Abu Hurairah ra, ia berkata; Nabi ﷺ telah bersabda, ”Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupa kalian, juga tidak kepada harta kalian, akan tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian”. (HR Muslim 2564)
Dalam sebuah sirah diceritakan Imam Ahmad bin Hambal bertemu dengan seorang tukang roti. ”Saat itu saya sudah tua, ingin ke kota Bashrah, saya tidak tahu kenapa ingin sekali menuju kekota Bashrah", ujarnya.
Padahal beliau tidak memiliki janji dengan siapapun atau memiliki suatu hajat. Beliau akhirnya tetap berangkat menuju Bashrah. Setibanya di Bashrah saat Isya tiba. “Saya ikut berjamaah shalat Isya di Masjid, hati saya merasa tenang, kemudian saya ingin beristirahat."
Beliau kemudian ingin tidur di Masjid untuk beristirahat selepas semua jemaah pergi meninggalkan Masjid. Namun, tiba-tiba marbot menghampirinya dan bertanya, "Syekh, mau apa disini?" imbuh si marbot.
Marbot tersebut tidak mengetahui bahwa beliau adalah Imam Ahmad bin Hanbal, seorang ulama ahli Fiqih dan Hadits. Beliau pun menjawab, "Saya ingin istirahat, saya musafir."
Marbot Masjid kemudian melarangnya untuk tidur di Masjid, Imam Ahmad bahkan didorong olehnya dan dikuncilah pintu Masjid tersebut. Kemudian beliau bermaksud untuk tidur di teras Masjid, tetapi marbot Masjid juga memarahinya.
Marbot Masjid itu berkata kepada Imam Ahmad, "Di dalam Masjid tidak boleh, di teras masjid juga tidak boleh”. Namun begitu Imam Ahmad tetap ikhlas menerima perlakuan marbot Masjid tanpa menyebutkan siapa dirinya. Walaupun di Baghdad beliau sangat dikenal dan dihormati umat.
Di samping Masjid tersebut, ada sebuah toko roti yang merupakan sebuah rumah kecil sekaligus digunakan untuk berdagang roti. Penjual roti tersebut sedang membuat adonan roti sambil melihat kejadian itu.
Kemudian si penjual roti memanggil Imam Ahmad dan berkata, "Mari Syekh, Anda boleh menginap di tempat saya, walau tempat saya kecil ". Imam Ahmad kemudian masuk ke rumah penjual roti tersebut dan duduk di belakang penjual roti.
Ia terlihat selalu membuat adonan roti sambal melafalkan istigfar. Saat meletakkan garam, memecahkan telur, dan mencampur gandum, penjual roti ini selalu beristigfar.
Imam Ahmad bertanya kepada penjual roti, "Sudah berapa lama kamu lakukan ini?" Kemudian dijawab, "Sudah lama sekali, Syekh, saya menjual roti sudah tiga puluh tahun, semenjak itulah saya lakukan." Imam Ahmad bertanya lagi, "Apa hasil dari perbuatanmu ini?"
Penjual roti kemudian menjelaskan, " tidak ada hajat yang saya minta, kecuali pasti dikabulkan Allah. Semua yang saya minta Allah langsung terima, semua dikabulkan Allah kecuali satu, ada satu yang belum Allah kabulkan." Imam Ahmad pun menanyakan terkait apa doa yang belum dikabulkan itu. "Saya meminta kepada Allah supaya dipertemukan dengan Imam Ahmad", ujar sipenjual roti.
Seketika, Imam Ahmad mengucap takbir setelah mendengar pengakuan sang penjual roti. Ia berkata, "Allahu Akbar ! Allah telah mendatangkan saya jauh dari Baghdad pergi ke Bashrah dan bahkan sampai didorong marbot masjid ke jalan, ternyata karena istighfar dan doamu."
Penjual roti tersebut terkejut seketika lalu memuji Allah, dan ia langsung memeluk dan mencium tangan imam Ahmad seketika itu. Ikhlasnya penjual roti beristigfar, Allah kabulkan do’anya bertemu dengan Imam Ahmad.
Bahkan Imam Ahmad bin Hanbal yang lahir pada 20 Rabiulawal 164 H (27 November 780) suatu hari bermuka masam karena ada seseorang yang memujinya dengan mengatakan, “Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan atas jasamu kepada Islam?”. Beliau menjawab, “Jangan begitu, tetapi katakanlah, semoga Allah membalas kebaikan terhadap Islam atas jasanya kepadaku, siapa saya dan apa jasa saya?!
Ibnul Qayyim dalam Al Fawa-id memberikan nasehat yang sangat indah tentang ikhlas, “Amalan yang dilakukan tanpa disertai ikhlas dan tanpa mengikuti tuntunan Nabi ﷺ bagaikan seorang musafir yang membawa bekal berisi pasir. Bekal tersebut hanya memberatkan, namun tidak membawa manfaat apa-apa.”
Rasulullah ﷺ bersabda :
إنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
Artinya :“Sesungguhnya amal itu tergantung dari niatnya. Dan setiap orang akan memperoleh apa yang dia niatkan.”( HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907)
Allah ﷻ mengetahui segala sesuatu yang ada dalam isi hati setiap hamba, maka bersungguh-sunggulah dalam berbuat kebajikan.
Firman Allah ﷻ :
قُلْ إِنْ تُخْفُوا مَا فِي صُدُورِكُمْ أَوْ تُبْدُوهُ يَعْلَمْهُ اللَّهُ
Artinya : “Katakanlah: “Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu melahirkannya, pasti Allah mengetahui”.” (QS. Ali Imran 3 : 29)
Ikhlas beramal dengan mengenyahkan pertimbangan-pertimbangan pribadi, memotong keinginan dipuji manusia serta mengikis nafsu keangkuhan diri.
*SEMOGA BERMANFAAT*
Team Redaksi Mimbar Agama Islam
